10 November 2008

Gold Investment

Diseluruh dunia saat ini diperkirakan ada sekitar 150.000 ton emas yg berproduksi sekitar 1.5% per tahun (sesuai dengan laju pertumbuhan penduduk dunia). Dgn keterbatasan tsb, emas akan mengikuti hukum pasar supply & demand. Seharusnya harga emas naik terus apabila diukur dengan nilai uang kertas. Kenyataannya dlm jangka panjang memang demikian, namun dalam jangka pendek, 1-2 bulan, 1-2 tahun bisa saja turun serta sensitif terhadap harga minyak mentah dunia, USD dan investasi bursa.

Prilaku harga emas 10 tahun

Banyak orang percaya emas adalah produk investasi yg dpt menangkal inflasi. Sejarah membuktikan emas akan diborong orang apabila terjadi kepanikan yg dpt membahayakan ekonomi negara, seperti inflasi tinggi, krisis keuangan, atau perang.

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Inflasi bisa menggerogoti nilai mata uang. Kalau kita asumsikan inflasi 15%/tahun, dgn harga barang & jasa sekarang bernilai Rp 5 juta, akan menjadi Rp 10,06 juta atau 2 kali lipat pada tahun ke-6, dan Rp 15,3 juta atau 3 kali lipat pada tahun ke-9, dan seterusnya.

Kalau kita berinvestasi emas dalam bentuk perhiasan, maka kita harus membayar harga emas plus ongkos pembuatannya. Ketika suatu saat kita menjualnya kembali, maka toko tidak akan mau membayar ongkos pembuatan dari perhiasan emas tersebut. Untuk emas perhiasan, ada baiknya membeli dengan kadar 22 – 24 karat dgn persentase diatas 90%. Kelebihan emas perhiasan adalah selain disimpan dapat digunakan sebagai perhiasan. Jika Anda membeli emas perhiasan pilihlah toko emas yang mempunyai show unit besar dan telah berada puluhan tahun, seperti di Melawai Plaza - Jakarta Selatan atau di Pasar Cikini - Jakarta Pusat.

Sedangkan Investasi emas yang cukup baik adalah emas batangan (fine gold), kadarnya 24 karat 99,99%. Emas ini cukup baik bila dijadikan investasi, dan siapapun tdk menyangkal kalau emas batangan berbeda dengan emas perhiasan. Selain itu, emas batangan tidak meminta ongkos pembuatan seperti halnya emas perhiasan. Karena itu, bila kita ingin melakukan investasi emas, maka tak ada salahnya kita mempertimbangkan investasi dalam bentuk emas batangan 'logam mulia' produksi PT. Aneka Tambang, Tbk. site nya ada di Jl. Pemuda - Jakarta Timur (depan pintu masuk Kawasan Industri Pulogadung) atau kunjungi website WWW.logammulia.com.


Harga emas batangan Logam Mulia

14 Juli 2008

Listrik Mati pakai Portable Genset aja !

Setelah pihak PLN mengumumkan pemadaman listrik secara bergiliran tahun lalu untuk area Jakarta dan sekitarnya, ada baiknya Anda melakukan antisipasi dengan menyediakan Portable Genset di rumah, agar kebutuhan penting keluarga tidak terganggu, seperti pompa air, lampu, kulkas dan lain-lain tetap beroperasi.

Portable Genset kini banyak tersedia di pasaran yaitu kapasitas daya antara 850-1500 Watt dengan kisaran harga relative terjangkau yaitu Rp. 800.000,- s/d Rp. 3.000.000,-. Beberapa tempat yang menjual Portable Genset antara lain : Ace Hardware, Carrefour, Makro, Giant, Depo Bangunan dan toko peralatan teknik lainnya.

Mati lampu ... siapa takut !!??

03 Juli 2008

Ruang Terbuka Hijau untuk Kawasan Pemukiman

Beberapa pengembang perumahan saat ini banyak yang menawarkan tema lingkungan hidup berkualitas sebagai hunian yang asri, mulai dari nuansa hutan kota, danau dan padang golf. Sudah menjadi tuntutan sebagai hunian yang menjadi demand bagi masyarakat saat ini adalah lingkungan hijau nan asri serta udara sejuk, disamping faktor lain seperti : air bersih, jarak tempuh ke pusat kota, akses jalan, transportasi, gaya hidup, fasilitas pendukung serta nilai ekonomi.

Untuk mendapatkan lingkungan hijau yang berkualitas diperlukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) secara proporsional yaitu 30% dari luas kawasan tersebut. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan mengharus­kan kawasan hijau di perkotaan minimal 20 persen dari seluruh luas perkotaan. sebagai referensi DKI Jakarta tahun 1965-1985 mengalokasikan RTH seluas 37,2 % (sangat ideal), tahun 1985-2005 alokasi RTH menyusut menjadi 25,85 % (cukup ideal) dan RTH tahun 2000-2010 kini hanya menyisakan seluas 13,94 % (tidak ideal), sementara RTH di berbagai lokasi saat ini terus mengecil hingga berkisar 9,14 % (kritis). Memang bukan merupakan jaminan, apabila kawasan pemukiman memiliki RTH sebesar 30 % akan menjadi hunian yang sejuk, karena harus diikuti oleh penataan secara makro dan global. Namun paling tidak secara mikro dapat menjadikan “atmosfir” kawasan pemukiman tersebut menjadi lebih baik dan berkualitas. Sebenarnya pihak penyedia kawasan pemukiman dapat memanfaatkan lahan fasilitas fasos fasum untuk dijadikan RTH yaitu pada sisi jalan raya exsisting (jalan desa), jalur tegangan tinggi PLN dan sisi lahan yang terbentuk secara alami seperti sungai, saluran air dan danau

01 Juli 2008

Angkutan Commuter Plus

Pada saat akan dioperasikan shuttle bus di beberapa kawasan pemukiman, dengan konsep angkutan commuter plus feeder TransJakarta Busway pada tanggal 1 Mei 2014 lalu, banyak pihak yang meragukan akan keberhasilan operasi angkutan tersebut, karena disamping demand juga terkait dengan perijinan yang relatif sulit untuk didapatkan. Setelah Trans Bintaro Jaya dioperasikan yang sekaligus sebagai pioneer angkutan commuter & feeder busway, ternyata mendapatkan respon sangat baik dari masyarakat. Momen tersebut kemudian diikuti oleh beberapa pengelola properti dan developer untuk menyediakan angkutan publik tersebut, karena diyakini akan meningkatkan nilai jual properti yang dikelolanya.

Kalau kita lihat karakteristik angkutan commuter tersebut, memang sedikit berbeda dengan bus kota yang pada umumnya akan mengalami “sepi penumpang” pada saat jam tertentu terutama siang hari. Dimana pada saat peakhour pagi dan sore akan mengalami over capacity, sedangkan pada angkutan commuter yang memang di-design sebagai feeder TransJakarta Busway dan berhenti di beberapa pusat perbelanjaan sangat diminati masyarakat baik pagi, siang dan sore - malam hari.

Belajar dari pengalaman tersebut beberapa pengembang dan operator bus mencoba menerapkan angkutan commuter plus, misalkan ke bandara, Bandung, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Ternyata hasilnya juga cukup mendapat respon positif dari masyarakat.

Melihat demand masyarakat, sebenarnya hal ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan public transport yang nyaman, efektif dan ekonomis, dengan tujuan tertentu dan periodik ke pusat wisata, perbelanjaan, perkantoran dan lain-lain.

Hal lain yang cukup menarik dari penyediaan angkutan pemukiman tersebut disamping sebagai fasilitas bagi warga dapat dijadikan sebagai media promosi berjalan bagi pengembang. Dengan pemikiran adalah biaya media promosi yang dipasang pada billboard selama periode waktu tertentu dapat dialokasikan untuk kerja sama penyediaan shuttle bus. Menarik kan… ?? !!

Yang perlu diperhatikan sebelum mengoperasikan Angkutan commuter adalah melakukan survei kepada masyarakat, melakukan simulasi melalui pemodelan, melakukan uji coba terhadap respon masyarakat dan terakhir adalah melakukan kajian final yang mencakup aspek ekonomi, perijinan, dan hasil studi tersebut.

20 Juni 2008

Penataan Kawasan Pemukiman melalui TRAFFIC MANAGEMENT

Kawasan pemukiman yang telah lama dihuni saat ini bisa dibilang “semrawut” dan padat lalulintasnya, walaupun sejak awal telah direncanakan dengan seksama oleh perencana kota dan perencana transportasi. Akan tetapi trend yang terjadi akibat kebijakan dan regulasi tata kota tidak mampu untuk mengantisipasi kepadatan lalulintas saat ini.

Berikut ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk penataan kawasan pemukiman melalui traffic management, antara lain :
- Pengaturan traffic light
- Penggunaaan sistem satu arah atau sistem buka tutup
- Pengendalian parkir di badan jalan (on street parking) dan kawasan padat;
- Reengineering
- Pemberdayaan angkutan umum, dan lain-lain
Pada dasarnya tujuan dari traffic management adalah meningkatkan arus lalulintas, mengurangi delay, meningkatkan keselamatan di jalan, meningkatkan fasilitas pejalan kaki, meningkatkan aksesibilitas dan meningkatkan kualitas lingkungan.